Chat with us, powered by LiveChat

Txture, Sepatu Kualitas Dunia dari Kota Kembang

Kelebihan lain dari Txture adalah hand wealthed construction, jugafitur tahan air, resoleable, dan tahan lama. Bahkan, kata Joe, sepatu yang dibuat pada awal berdiri, 2010 lalu pun, masih hingga saat ini kokoh. “Paling yang terkikis bagian sol nya. Kalau keseluruhan, harus menunggu bagian upper-nya menyerah dan itu lama banget. Apalagi semua material yang dipakai full layer leather,” tuturnya.

Dia mengatakan, karena menggunakan full leather, saat pertama dipakai akan terasa kaku. Namun lama kelamaan, sepatu akan membentuk kontur pada kaki, hingga nyaman digunakan dan tidak membuat kaki pegal. Sepatu tersebut dijual di Indonesia maupun mancanegara di antaranya Jerman, Rusia, Amerika Serikat, hingga Kanada. Maka, tak berlebihan jika disebut Txture adalah sepatu dengan kualitas dunia. Harga paling murah untuk produk Txture adalah Rp 1.850.000. Kendati demikian, banyak pelanggan yang memilih sepatu di atas harga Rp 2 juta. Sebab, dengan harga beda sedikit, spesifikasi yang diperoleh jauh lebih bagus. “Untuk Txture sebulan kami produksi 50-60 sepatu dengan pengerjaan 2-3 bulan,” kata Joe.

Berbagai inovasi terus dilakukan Txture. Salah satunya mengganti material plat, pada konstruksi di dalam tapak sepatu (stillseng), dengan bambu. Menurut Joe, bagian tersebut akan menopang agar sepatu tidak mudah tertekuk saat digunakan untuk berjalan. “Bambu ini banyak manfaatnya, termasuk saat digunakan di sepatu. Sepatu lebih bisa bernapas, kalau musim panas tidak kepanasan, musim dingin tidak kedinginan,” ucapnya. Keunggulan lainnya, bambu bisa menghalau kelembapan yang mengundang bakteri.

Tentunya tidak semua jenis bambu bisa digunakan. Tapi bambu pilihan yang sudah ditambah lapisan agar tidak kena rayap.

Txture juga tengah bekerjasama dengan pemerintah Padang Panjang untuk pengolahan Indonesian Cordovan. “Lalu apa bedanya? Padang Panjang masih raw material, belum diolah,” ucapnya. Saat Desember 2018, dia bekerja sama dengan pemerintah Padang Panjang, Joe mengaku belum puas dengan hasilnya. Untuk itu pengolahan terus dilakukan hingga sekarang. “Harganya tentu lebih murah dibanding yang Italia. Kemungkinan bedanya bisa 50 persen,” ucapnya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *